Magdalena dr Nagasaki; Sta. Marie de la Passion
Bacaan I : Rm 4:1-8
Mazmur : Mzm 32:1b-2. 5.11
Bacaan Injil : Luk 12:1-7
Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Renungan :
Tugas saksi adalah mengatakan kebenaran, dan ruang pengadilan adalah ruang untuk mencari dan memutuskan kebenaran. Yesus mengajar murid-murid-Nya dengan berkata: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Kebenaran selalu berlawanan dengan kemunafikan. Seperti ragi, kemunafikan adalah daya yang diam-diam tetapi pasti akan mengkhamiri seluruh adonan pada saatnya. Berhadapan dengan keseriusan ancaman kemunafikan ini, Tuhan Yesus secara khusus mengajar murid-murid tentang sikap dasar yang harus dikenakan sejak awal bahwa kebenaran tak mungkin tersembunyi, karena itu harus dinyatakan. Di sisi lain kemunafikan selalu ingin menyembunyikan dan mengingkari kebenaran, serta melawan setiap usaha yang akan membuka persekongkolan yang ada padanya.
Berbeda dengan penyebutan murid dalam hubungan dengan guru atau hamba dalam hubungan dengan tuan, secara khusus Tuhan Yesus menyebut para murid sebagai “sahabat-sahabat-Ku”. Menjadi sahabat Yesus dimulai ketika orang takut akan Dia dan mengakui Dia di depan manusia. Menjadi sahabat Yesus berarti mewartakan kebenaran dengan berani dan berhadapan dengan kemunafikan yang berusaha menutupi dan menyelubungi kenyataan sebenarnya.
Mengakui Yesus menjadikan kita saksi yang memberitakan kebenaran. Sama seperti Yesus yang tajam menganalisa keadaan zamannya, kita pun dipanggil untuk belajar dan peka akan situasi dan kondisi di sekitar kita. Dengan demikian kita dapat menyampaikan pesan kebenaran yang diamanatkan kepada kita sesuai dengan keadaan zaman kita!
“Jadilah saksi pemberita kebenaran kepada sesama melalui kata dan tindakan yang nyata dalam hidup”.
Post a Comment