Pesta St. Fransiskus Assisi; St. Kuintinus
Bacaan I : Neh 2: 1-8
Mazmur : Mzm 137: 1-2.3.4-5.6
Bacaan Injil : Luk 9: 57-62
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi. Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.
Renungan :
Pada zaman ini, kebutuhan kita semua terpenuhi oleh canggihnya alat-alat elektronik dan kebutuhan yang serba instan. Apa-apa saja yang kita butuhkan tersedia membuat kita merasa nyaman dan bahagia, maka tidaklah mengherankan kalau banyak orang agak susah meninggalkannya gaya hidup ini.
Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan agar setiap pengikut-Nya berani meninggalkan zona nyaman. Yesus menuntut keberanian para pengikut-Nya untuk menjalani sebuah tatanan hidup yang berbeda, penuh resiko, tantangan dan penderitaan yang berfokus pada pelayanan. Maka dari itu kita dituntut agar bisa meninggalkan kepentingan diri dan egoisme. Contoh yang tepat menjalani gaya hidup seperti itu adalah Yesus. Pilihan itu memang sangat keras. Namun kaum terpanggil pada saat ini menjadi bukti bahwa cara hidup yang diminta Yesus tidak mustahil, tetapi mampu dijalani asalkan kita memusatkan diri, berpasrah dan menggantungkan hidup kita pada Yesus.
Hari ini gereja memperingati St. Fransiskus dari Assisi. Dia termashyur karena rahmat keutamaan kemiskinan yang diterimanya serta dihayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Ia meninggalkan kemewahan rumah dan keluarganya serta kemudian hidup miskin untuk meneladani tatanan hidup Yesus yang miskin dan mempersembahkan diri seutuhnya bagi Allah. Maka sebagai pengikut Yesus, apakah kita berani meninggalkan zona nyaman kita? Dan berjalan serta melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus? Semoga kita semakin rela dan siap sedia mempersembahkan seluruh hidup dengan segala keberadaan diri kepada Allah yang memanggil.
“Siap sedia dan rela untuk meninggalkan segala ikatan-ikatan duniawi dan berani mengikuti Yesus dengan segala konsekuensinya”.
Post a Comment