Selasa, 17 Oktober 2017

 

PEKAN BIASA XXVIII
Pw. St. Ignasius dari Antiokhia, UskMrt.

Bacaan I : Rm 1:16-25
Mazmur : Mzm 19:2-3.4-5
Bacaan Injil : Luk 11:37-41

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

Renungan :

Orang Farisi heran ketika melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Ritual itu sudah berlangsung lama dan dibuat oleh pendahulu mereka untuk “melengkapi” Taurat. Maka Yesus menegur mereka karena mengutamakan hal lahiriah, bagaikan membersihkan cawan dari luarnya saja sementara bagian dalam tetap kotor. Berbeda dari orang Farisi, Yesus mengutamakan apa yang ada di dalam hati. Bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatan yang dilakukannya, sementara menurut Yesus, kesucian datang dari hati yang mewujud di dalam tindakan. Hukum Taurat memang berkaitan dengan perbuatan, tetapi tujuannya adalah mengajar bangsa Israel untuk menaatinya berdasarkan kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Maka taat pada Taurat bukan semata-mata taat pada aturan, tetapi taat pada Allah. Perbuatan memang harus bersih, tetapi hati yang melahirkan perbuatan itu harus bersih juga. Dari luar, orang Farisi memang kelihatan baik, saleh dan terpuji, tetapi Yesus membukakan isi hati mereka yang sebenarnya yaitu penuh “rampasan dan kejahatan”.

Bahaya mengutamakan perbuatan lebih daripada hati bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang sebagai orang baik bisa saja membuat kita menjaga sikap sebaik mungkin di depan orang lain. Tetapi bagaimana bila tidak ada orang lain di sekitar kita? Adakah kita tetap bersikap baik karena keinginan menaati Allah? Yesus mengajar kita bahwa bila hati kita bersih maka motivasi dan sikap kita pun akan murni, perbuatan yang lahir pun bersih. Jika kita hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar maka kesombongan akan muncul dari hati kita. Mari kita belajar dari Tuhan bahwa kekudusan dari-Nya terbit dari dalam hati dan mewujud di dalam perbuatan!.

“Jadilah agen-agen kejujuran dalam kesaksian hidup dimanapun dan kapanpun”.

Post a Comment